Social Media dan Dakwah: Membangun Opini Publik

Akhir-akhir ini dunia sosial media digemparkan dengan video yang diunggah oleh mahasiswa Universitas Indonesia. Video yang yang menjelaskan tentang penolakannya terhadap calon gubernur DKI Jakarta masa pemilu 2017 yakni Basuki Tjahaja Poernama atau yang biasa dikenal Ahok. Video yang diunggah pada tanggal 3 september 2016 ini telah tayang sebanyak 19.606 kali dan menjadi viral di beberapa sosial media.

Video tersebut mendapat banyak respon dari netizen dan Tak terkecuali Ahok sendiri. Dalam wawancaranya terhadap beberapa surat kabar nasional yang diunggah ke  youtube Ahok menyatakan ketidakrelaan dan keberatannya dikritik oleh mahasiswa tersebut. Alasan yang dilontarkannya adalah perihal SARA.

Ketua Umum Gema Pembebasan Pusat Ricky Fattamazaya menaggapi hal tersebut “Justru begni, kebalikannya kami tidak merasakan apapun terkait konten. Kita tidak pernah menyebut agama. Karena ini kewajiban sebagai kaum muslimin, mendukung pemimpin non muslim itu sama haramnya makan Babi, haramnya makan anjing, haramnya makan riba, haramnya berzina.

Justru yang kita sampaikan bukan rasis tapi bentuk dakwah kita. Ini tuntunan Al-quran, ini diajarkan Rasulullah. Karena kalau haram itu ada beban hukum di sana, kalau dikerjakan berdosa, kalau tidak dikerjakan mendapat pahala” ungkap Ricky pada salah satu media online.

Sarana dakwah

jika kita cermati, ada yang menarik  dari fenomena ini, yakni sebuah konten yang menjadi viral di tengah-tengah masyarakat mampu menjadi buah bibir dimana-mana. Dalam banyak kasus sosial media merupakan  sarana yang efektif membangun opini umum di tengah masyarakat.

Kita bisa lihat bagaimana keberhasilan Jokowi dalam pemenangannya menjadi gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI kemarin. Ini mengindikasikan bahwa viral sosial media mempunyai kekuatan dalam melambungkan nama seseorang sekaligus membangun sebuah citra atau opini di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga:   Hukum Layanan Delivery Makanan dengan Ojek Online

Hal ini senada dengan apa yang dituliskan oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nidzom al-Islamiyah. Beliau mengatakan dalam pembentuk masyarakat setidaknya terdapat empat element di dalamnya yakni manusia, pemikiran, perasaan, dan peraturan.

Dalam  sosial media, peranan yang selalu dimainkan adalah empat hal tersebut. Karena empat hal inilah yang memang menjadi kunci dalam membangun opini umum di tengah masyarakat. Sering kali kita mendengar dan membaca dalam setiap argumen yang dilontarkan seseorang adalah menyangkut penyelewengan jabatan.

Dalam hal ini bisa kita katakan peraturan yang dimainkan. Kemudian ada juga yang selalu berbicara konsep dari sebuah ideologi atau sistem yang seharusnya dianut oleh masyarakat. Dalam hal ini bisa kita katakan pemikiran yang dimainkan. Dan untuk membuat masyarakat bergerak selalu perasaan dari masyarakat itu sendiri yang disentuh.

Inilah teori dasar bagi terbentuknya opini umum di tengah masyarakat, sedangkan sosial media hanyalah alat yang menjadi sarana bagi terciptanya sebuah kondisi yang diinginkan.

Memang tidaklah mudah menciptakan sebuah opini umum di tengah masyarakat. Butuh perjuangan ekstra untuk menyadarkan masyarakat atas realita yang sedang dialaminya. Namun dengan tren social media yang jumlah penggunanya cukup besar saat ini, tentu ini bisa menjadi satu kemudahan tersendiri dalam berdakwah.

Marketplace