Sering Belanja Online Dengan Kartu Kredit? Baca ini Dulu

Belanja Online Dengan Kartu Kredit?

Dalam era globalisasi transaksi bisnis berjalan begitu cepatnya. Hampir tidak ada jeda bagi setiap orang yang ingin melakukan transaksi. Baik dalam transaksi on-line maupun of-line. Secara otomatis kebutuhan akan sebuah teknologi berbasis keuangan sangat dibutuhkan. Akhirnya ide untuk memunculkan sebuah kartu berbasis pembayaran pun diterima pada tahun 1970. Dan pada tahun 1977, Bank Americard memberi lisensi kartu kredit yang dipusatkan bersama secara resmi di bawah nama Visa.

Kini, di dunia kartu kredit telah diterbitkan oleh beberapa jaringan internasional, yaitu Visa, Mastercard, Dinners Club International, dan American Express. Untuk jaringannya sendiri saat ini yang paling luas adalah Visa, terbukti dengan dipercaya menjadi sponsor Olimpiade Beijing 2008.

Definisi Kartu Kredit

Dalam Expert Dictionary, kartu kredit didefinisikan dengan, Kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank dan sejenisnya untuk memungkinkan pembawanya membeli barang-barang yang dibutuhkan secara hutang.”

Sistem kartu kredit sendiri dijelaskan sebagai suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan kepada pengguna sistem tersebut. Sebuah kartu kredit berbeda dengan kartu debit, dimana penerbit kartu kredit meminjamkan konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening. Kebanyakan kartu kredit memiliki bentuk dan ukuran yang sama, seperti yang dispesifikasikan oleh standar ISO 7810.

Penggunaan Kartu Kredit

Kartu kredit biasa digunakan di toko-toko yang ada gambar logo kartu kredit, yaitu Visa, Mastercard, dll. Juga dalam transaksi on-line pun kini bisa menggunakan kartu kredit. Contohnya Paypal. Apabila dalam toko tersebut tidak terdapat logo ini maka otomatis transaksi menggunakan kartu kredit tidak bisa digunakan.

Selain penggunaan kartu kredit untuk melakukan transaksi pembelian antara pihak bank sebagai pengeluar kartu kredit dengan toko yang menerima kartu kredit tersebut, maka kartu kredit juga bisa berfungsi untuk menarik tunai (cash). Sebab, kartu kredit umumnya memang dapat dipakai untuk menarik tunai.

Dengan kata lain, kartu kredit tersebut bisa digunakan untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme kredit, dimana pihak bank menghutangi pemakai untuk dibayarkan secara online kepada pihak lain.  Ini merupakan mekanisme hawalah (pemindahan tanggungan).

Yang kedua, kartu kredit juga bisa digunakan untuk menark cash, atau pinjaman murni, dimana pihak bank menghutangi pemakai secara langsung ketika pemakai tersebut menarik sejumlah uang sesuai dengan limit yang diberikan oleh bank yang bersangkutan secara tunai.

Hukum Kartu Kredit

Lazimnya sebuah pinjaman, maka dalam bentuk apapun setiap transaksi dengan berakad pada pinjaman, maka harus dikembalikan dengan porsi yang sama ketika meminjam pertama kali. Sebagai contoh adalah, ketika kita meminjam uang sejumlah Rp 100.000 maka uang yang harus dikembalikan pun sejumlah Rp 100.000. tidak boleh ada penambahan. Tidak boleh ada syarat penambahan di awal. Jika ada penambahan sedikit saja dari apa yang dipinjam maka itu jelas terdapat Riba.

Juga tidak boleh dalam peminjaman, syarat pengembalian pinjaman disertakan jasa. Sebagai contoh ketika meminjam uang sejumlah Rp 100.000 maka ketika mengembalikannya tidak boleh ada syarat adanya jasa seperti jasa mengantar, menjemput, dll.

Karena kaidah yang dipakai pada transaksi pinjam meminjam adalah “Setiap pinjam meminjam yang menghasilkan tambahan itu adalah Riba”

Badr ad-Din al-Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan tentang riba,

Baca Juga:   Pedang Damaskus, Pedang Berteknologi Masa Depan!

“Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis rill.”

Perlu diketahui bahwa ketika pemakai menggunakan kartu kredit itu terdapat bunga yang dikenakan padanya. Fungsinya untuk apa? Untuk keuntungan bagi pihak yang memberikan pinjaman –dalam hal ini bank dan sejenisnya-. Biasanya dikenakan bunga, bunga yang dikenakan biasanya relatif biasanya 2-3 %.

Maka atas dasar ini hukum kartu kredit jelas haram. Dalil keharamannya dikembalikan pada dalil keharaman riba. Allah Swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” 

(QS. Al-Baqarah [02]: 278)

Ini karena transaksi dengan menggunakan kartu kredit merupakan bentuk dayn (hutang) dari pengguna kartu kredit kepada pihak bank, disertai dengan bunga dan denda. Mungkin ada yang bertanya, jika dalam pengembalian uang yang dipinjamkan sesusai pada waktu yang ditetapkan, mungkin itu akan menghindari bunga?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bunga tidak bisa dihindari karena sudah ditetapkan oleh pihak bank. Adapaun yang bisa dihindari adalah denda pinalti yang itu bisa terjadi jika kita telat membayar hutang. Dengan demikian transaksi yang menggunakan kartu kredit adalah haram karena di dalamnya terdapat Riba.

Kemudian bagaimana dengan status hukum denda yang diterapkan oleh pihak pemberi pinjaman? Dalam hal ini kita harus melihat bahwa adanya denda bagi pemakai kartu kredit didasarkan atas kesepakatan keduabelah pihak yaitu pihak pemberi pinjaman (bank, dll) dan pihak penerima pinjaman.

Adanya denda/pinalti berfungsi agar tidak menghasilkan dharar/kerugian yang lebih banyak karena jatuh tempo atau telat bayar. Biasanya pihak bank memberi tanggal jatuh tempo yang harus dibayarkan saat jatuh tempo kepada pihak pemakai kartu kredit. Namun jika kita kembali kepada objek yang menjadi tanggungan antara pihak bank dan pemakai kartu kredit, maka tanggungan yang disepakati adalah tanggungan hutang.

Dengan kata lain pemakai kartu kredit yang sedari awal dikenakan syarat bunga pengembalian hutang kemudian dikenakan lagi denda atau pinalti bagi yang jatuh tempo dengan tanggungannya yaitu hutang.

Di dalam Islam akad dayn (hutang) tidak boleh ada penambahan ketika sudah jatuh tempo. Karena ini juga salah satu dari bentuk Riba.

Ibnu Taimiyah berkata, Para ulama’ sepakat, bahwa pemberi hutang jika dia mensyaratkan adanya tambahan atas utang yang diberikan, maka syarat itu haram.”

Ibnu Qadamah juga mengatakan, “Setiap utang yang di dalamnya mensyaratkan adanya tambahan, maka syarat itu jelas haram, dah tidak ada satupun perbedaan pendapat.”

Karena itu, sanksi denda atau pinalti dalam akad utang-piutang ini jelas tidak diperbolehkan, karena merupakan bagian dari riba. Sebab yang menjadi objek akad dalam akad tersebut adalah dayn (hutang), sedangkan adanya syarat tambahan di luar utang tersebut jelas merupakan bentuk riba.

Dengan demikian, baik dari segi akadnya, yaitu utang-piutang dengan sistem riba jelas, bahwa kartu kredit tersebut tidak bisa dilepaskan dari riba. Demikian juga dengan status denda atau pinalti yang terjadi akibat keterlambatan bayar dari tenggat waktu yang diberikan oleh pihak bank, juga termasuk dalam kategori riba, karena merupakan tambahan harta untuk utang.

Marketplace