Mengenal Startup Muslim, Startup Islami, Serta Peluang Dan Tantanganya

islamic startup

Besarnnya jumlah populasi muslim secara global sudah tidak diragukan lagi, menurut Thomson Reuters dan DinarStandard, umat Islam mengisi 23 persen populasi manusia didunia atau sekitar 1,6 miliar jiwa lebih dan jika menurujuk data dari Fleishman-Hillard Majlis, populasi muslim akan meningkat menjadi 2.6 miliar atau sekitar 30 persen dari populasi global di tahun 2050.

Pasar Muslim dan Peluangnya

Total pasar makanan halal di dunia pada tahun 2019 Menurut Thomson Reuter, diperkirakan akan mencapai USD 2,53 triliun (21,2% pengeluaran masyarakat global). sedangkan pasar kosmetik dan personal care halal dan industri farmasi halal yang masing-masing mencapai USD 73 milyar dan USD 103 milyar pada tahun 2019.

Indonesia sendiri yang merupakan negeri muslim terbesar di dunia menyumbang pasar yang sangat signifikan, yaitu sebesar USD 190 miliar untuk pasar makanan halal.

Dengan potensi pasar Muslim dunia yang begitu besar, khususnya di Indonesia tentu ini menjadi sebuah peluang yang sangat menjanjikan saat ini dan di masa depan. Itulah mengapa tidak heran jika bukan hanya muslim saja yang tertarik menyasar industri ini, bahkan mereka yang bukan muslimpun mulai melirik berbagai sektor di industri muslim ini.

Sehingga kalau diperhatikan beberapa tahun belakang ini, startup-startup yang membidik pasar muslim kian bermunculan. istilah startup muslim atau startup islamipun mulai sering dibicarakan.

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan startup muslim dan startup islami itu.? apakah startup yang menyasar pasar muslim adalah startup islami?

Startup Muslim / Startup Islami

Secara sederhana startup islami bisa didefinisikan sebagai sebuah perusahaan rintisan yang dimiliki, dijalankan atau dikelola oleh muslim, yang mana perusahaan (startup) tersebut didirikan dan dikelola berdasarkan aturan islam (syariat islam).

lalu bagaimana dengan startup muslim, apa yang dimaksud dengan startup muslim?

Seharusnya, startup muslim dan startup islami memiliki definisi yang sama. namun, sebaiknya jangan terlalu tergesa-gesa mengatakan startup yang menyasar pasar muslim itu adalah startup islami.

Klaim startup islami maupun bisnis syariah, memang tidak salah, namun janganlah terlalu tergesa-gesa. karena memberi predikat suatu perusahaan itu termasuk startup islami (syariah) atau tidak, sesungguhnya tidaklah mudah dan sesederhana yang kita sangka selama ini. namun, memerlukan sebuah pengkajian yang lebih teliti dan mendalam.

Misalnya, apakah bentuk perusahaan yang diterapkan masih menggunakan akad PT secara keseluruhan (bukan sekedar mendapatkan izin legal saja) ?

Baca Juga: Hukum Perusahaan Terbatas (PT) dalam islam.

Selain itu, apakah startup tersebut menawarkan sahamnya ke masyarakat di bursa saham atau disebut initial Public Offering (IPO)? dan apakah budaya perusahaan yang diterapkan sesuai dengan syariat islam?

Tantangan Startup Islami

Menjalankan startup islami atau perusahaan berbasis syariah dijaman yang tidak menerapkan islam secara kaffah ini memang memiliki tantangan-tantangan tersendiri.

Baca Juga:   iGrow Terpilih Menjadi Finalis Innovation 4 Impact, Global Islamic Economy Summit (GIES) 2016

Berikut beberapa tantangan perusahaan berbasis syariah yang dilansir dari buku Proud Of You, We Proudly Present Sharia Marketing Communication.

Lingkungan makro yang belum mendukung

Indonesia merupakan negeri muslim terbesar didunia yang mana mayoritas penduduknya sekitar 85% lebih adalah muslim, dan ini adalah angka yang sangat menggiurkan bagi perusahaan yang konsen dengan segmentasi muslim dan syariah. Jamaknya dengan segemtasi yang besar dan banyak seperti itu perusahaan yang bergerak dalam bisnis islam atau syariah harusnya mendapatkan kue yang berlimpah.

Namun ternyata faktanya menunjukan hal yang berbeda. justru perusahaan yang non-syariah yang lebih disukai oleh pasar muslim. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain

  1. belum adanya edukasi yang menyeluruh terhdapa keuntungan perusahaan syariah baik secara mental maupun spritual.
  2. Sosialisasi perusahaan syariah sangat minim dibanding dengan perusahaan konvensional
  3. pihak penguasa tidak memberi bantuan dan dukungan yang serius dalam memajukan perusahaan syariah.
  4. belum adanya ikatan kesepahaman antar praktisi dan pelaku perusahaan syariah.
Sistem ekonomi global yang tidak mendukung perusahaan berbasis syariah.

Seperti yang kita ketahui perusahaan berbasis syariah sebelumnya tidak ada sama sekali baik di jaman Rasulllah maupun jaman pemimpin islam menjelang runtuhnya kekhalifahan islam. Perusahaan syariah benar-benar dikenal dan digunakan sekitar awal 90an. Kenapa hal ini terjadi? Dikarenakan jaman dulu sistem kekuasaan islam adalah syariah, tidak ada perusahaan satupun yang didalam kekuasaaan islam yang tidak berbasis syariah.

Jadi syariah bukan sekedar label nama ataupun sesuatu yang diada-adakan, tetapi benar-benar didukung dan diimplementasikan oleh pemerintah. Seperti layaknya label warung tegal, rumah makan padang ataupun sate madura yang hanya kita dapatkan diluar propinsi asal mereka. Jadi tanpa kita sadari, kita berada di negeri yang mayoritas muslim tapi hanya bangga dalam jumlah saja.

Banyak kalangan awam yang memahami perusahaan syariah hanya diindentikkan dengan perbankan, sedangkan yang lainnya menganggap perusahaan syariah sebagai perusahaan yang hanya bersifat spritual saja. ada seorang pakar marketing yang mengatakan perusahaan syariah adalah spritual universal! Hanya sebatas itu saja pemahaman mengenai syariah.

itulah beberapa tantangan perusahaan syariah, walaupun sudah sejak tahun 40an mulai dibuka perbankan syariah tanpa ribawi di Malaysia dan puncaknya saat keberhasilan implementasinya di Mesir pada tahun 1963.

Marketplace