Melihat Perbedaan Tiga Sistem Ekonomi Dunia

Banyak dari masyarakat saat ini yang belum mampu membedakan tiga sistem ekonomi dunia yakni ekonomi Kapitalisme, Sosialis-Marxisme, dan Islam. Mereka menilai perbedaan mendasar dari ketiga jenis sistem ekonomi ini hanya berdasarkan riba saja. Padahal ada prinsip-prinsip mendasar yang membedakan bangunan dari ketiga sistem ekonomi dunia ini.

Meminjam penjelasan dari Dwi Condro Triono seorang pakar ekonomi Islam, mengatakan bahwa pandangan mendasar dari suatu bangunan ekonomi adalah mengenai alokasi sumber daya ekonomi yang ada di atas bumi. Setiap sistem ekonomi akan senantiasa memiliki suatu pandangan yang khas tentang bagaimana alokasi sumber daya ekonomi yang “adil” menurut kacamata mereka.

Ekonomi Kapitalisme

Menurut pandangan sistem ekonomi Kapitalisme, alokasi sumber daya ekonomi yang adil adalah jika setiap individu manusia diberi kebebasan atau kesempatan yang sama untuk memiliki segala sumber daya ekonomi yang tersedia di alam ini.

Dengan asas kelangkaan sebagai problem dasar ekonomi Kapitalisme -yaitu kebutuhan manusia akan barang dan jasa yang tidak terbatas namun tidak didukungnya sumber daya ekonomi karena bersifat terbatas-, maka memunculkan pola solutif dari permasalahan tersebut yakni produksi, konsumsi, dan distribusi. Pola inilah yang dipercaya sebagai jawaban atas permasalahan yang ada.

Produksi dalam hal ini menempati posisi sebagai kajian terpenting dalam menjawab persoalan ekonomi. Bagi mereka kelangkaan yang terjadi bisa dijawab dengan meningkatkan produksi yang maksimal.

Adanya konsumsi tentu mengarah kepada pemenuhan barang dan jasa. Barang dan jasa yang hendak dikonsumsi tentulah yang memiliki nilai. Baik nilai guna maupun nilai tukar. Masyarakat sebagai pelaku konsumsi akan memilih alat pemuas mana yang memiki nilai atau kegunaan yang tinggi sekaligus mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam teori trickle down effect, adanya distribusi merupakan dampak logis dari terjadinya pertumbuhan ekonomi atau produksi dan saling terkait satu sama lain. Sebab tanpa adanya pertumbuhan ekonomi atau produksi, tidak mungkin ada distribusi. Secara aplikasinya bisa diatur dengan struktur harga. Harga memainkan peran penting sebagai sarana distribusi alami di tengah kebutuhan manusia akan alat pemuasnya.

Berdasarkan hal tersebut semua akan bisa berjalan secara alami dengan mekanisme pasar yang steril dari peran pemerintah. Itulah yang disebut sebagai mekanisme pasar bebas.

Ekonomi Sosialis-Marxisme

Kemunculan sistem ekonomi Sosialis-Marxisme, didasarkan pada sebuah fakta lapangan dari penerapan sistem ekonomi Kapitalisme. F Ekonomi Kapitalisme ini menghasilkan dua buah kelas yang begitu jauh, yakni kelas Borjuis (kelas tuan tanah atau pemilik modal) dan Proletar (kelas buruh). Adanya dua kelas yang begitu kentara jauhnya menyebabkan sering terjadi gesekan.

Dalam analisis yang digunakan untuk membantah teori ekonomi Kapitalisme, Karl Marx –Seorang filsuf Inggris dan Peunulis buku Das Capital- membaginya dalam tiga bantahan umum yaitu Hukum Akumulasi Kapital (The Law of Capital Accumulations), Teori Nilai Lebih Tenaga Kerja (Surplus Labor and Value Theory), dan Hukum Upah Besi (The Iron Wage’s Law).

Hukum Akumulasi Kapital yang dijelaskan oleh Karl Marx berbicara tentang sebuah persaingan yang tidak sehat dari pasar bebas ala Kapitalisme. Ia menyatakan, dalam pasar yang memberi kebebasan pada semua pihak untuk melakukan persaingan, sesungguhnya dapat diibaratkan sebagai pertarungan tinju tanpa kelas, semuanya boleh masuk ke dalam ring tinju tersebut. Walhasil pengusaha dengan modal yang besar sajalah yang mampu bertahan. Sedangkan pengusaha dengan modal yang minim hanya akan menjadi penonton.

Teori Nilai Lebih Tenaga Kerja berbicara tentang nilai. Nilai suatu barang dan jasa diukur dari seberapa banyak tenaga buruh yang dikorbankan oleh pekerja untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Jika suatu alat pemuas (barang dan jasa)  bernilai tinggi bisa dipastikan penggunaan tenaga kerja juga tinggi. Namun tidak dengan majikan. Seorang majikan tidak melakukan aktivitas produksi apapun namun mendapatkan keuntungan yang maksimal. Itu disebabkan karena kepemilikan modal. Jadi jika nilai alat pemuas itu diukur dari besarnya tenaga yang telah dikorbankan, maka sesungguhnya telah terjadi surplus nilai tenaga buruh yang telah diambil majikan. Itu berarti majikan telah “merampok” nilai yang dihasilkan kaum buruh.

Setiap buruh yang bekerja pasti akan diberikan upah. Namun upah yang diberikan hanya sebatas untuk penyambung hidup. Tidak lebih dari itu. Itulah disebut hukum upah besi. Menurut Karl Marx upah buruh sulit untuk dinaik-turunkan. Sebab jika upah dinaikkan, mudah saja bagi majikan untuk mengganti orang yang menuntut kenaikan upah tersebut dengan orang lain yang masih menganggur. Namun jika diturunkan maka akan menyebabkan produksi yang dihasilkan tidak maksimal disebabkan upahnya tidak mampu memenuhi kebutuhan fisiknya. Walhasil upah hanya akan berada pada posisi minimum dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Baca Juga:   Pemasok Daging Halal Terbesar Bukan Dari Negeri-Negeri Muslim

Atas dasar itu Karl Marx memberikan solusi yakni penghapusan alat-alat produksi dari kepemilikan individu. Semuanya dialihkan menjadi milik negara.

Sistem Ekonomi Islam

Sistem ekonomi Islam berdiri di atas pandangan bahwa harta yang ada di bumi dan seisinya adalah milik Allah. Sesuai dengan firman-Nya dalam surat an-Nuur ayat 33 yang artinya: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu”.

Atas pandangan ini aturan-aturan yang menyangkut harta dan seluruh cakupannya berasal dari Allah semata. Sedangkan manusia hanya mengelola segala sumber daya ekonomi yang ada di bumi ini. Maka atas dasar itu bangunan ekonomi Islam terbagi menjadi tiga. Dalam kitabnya yang berjudul Sistem Ekonomi Islam karya Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani tiga bagian yang dimaksud adalah kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, dan distribusi kekayaan.

Dalam hal kepemilikan, Islam membaginya ke dalam tiga sektor yakni kepemilikan individu, masyarakat, dan negara. Kepemilikan individu menyangkut kepada harta yang boleh dimiliki sebagai individu seperti harta dari hasil bekerja, pewarisan, pemberian dari negara, dll. Kepemilikan masyarakat menyangkut kepada harta yang tidak boleh dimiliki individu melainkan diperuntukkan hanya untuk masyarakat seperti fasilitas umum, bahan-bahan tambang yang jumlahnya tidak terbatas, dan benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu (Seperti penguasaan sungai oleh individu, gunung, pulau, dll). Terakhir kepemilikan negara yaitu harta yang merupakan hak seluruh kaum muslim yang pengelolaannya menjadi wewenang khalifah semisal harta kharaj, jizyah, ganimah, dll.

Bangunan ekonomi Islam yang kedua adalah pengelolaan kepemilikan. Islam membaginya menjadi dua bagian yakni pemanfaatan kepemilikan dan pengembangan kepemilikan. Dalam pemanfaatan kepemilikan harta, tidak boleh hanya dibiarkan atau sengaja ditimbun. Itu jelas akan mengganggu kestabilan ekonomi. Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan. Agar roda ekonomi terus berputar. Begitu juga dalam pengembangan kepemilikan. Berbeda dengan pengembangan harta yang diperuntukkan untuk meningkatkan kuantitas harta yang diperoleh, dalam pengembangan kepemilikan, berbicara tentang apakah dilakukan sesuai prinsip syariah atau tidak? Apakah harta yang sudah dimiliki dikembangkan melalui investasi berprinsip bunga atau menggunakan akad mudharabah? Begitu juga apakah pengembangan dilakukan dengan cara perjudian? Dalam hal ini ketika berbicara tentang pengembangan kepemilikan, maka berbicara tentang dasar hukum syariah di bidang mu’amalah. Bukan bagaimana meningkatkan kuantitas harta.

Terakhir atau bangunan ekonomi Islam yang ketiga adalah distribusi kekayaan. Jika dalam teori ekonomi Kapitalisme distribusi merupakan dampak logis dari adanya produksi, seolah menjadi hal yang wajar dan tidak istimewa, maka dalam ekonomi Islam distribusi menempati pola yang sangat istimewa. Distribusi kekayaan dalam Islam tidak bergantung pada struktur harga melalui mekanisme pasar, namun Islam membaginya dalam dua pelaku yakni individu dan negara sekaligus dibagi kembali dengan dua mekanisme yakni mekanisme ekonomis dan non ekonomis.

Dalam pelaku individu dengan pola pendistribusian melalui mekanisme ekonomis yaitu pola pendistribusian yang terjadi karena motif ekonomi. Salah satunya adalah dengan perdagangan. Adanya perdagangan yang dilakukan individu membuat distribusi kekayaan mengalir kepada orang lain. Begitu seterusnya. Sementara pelaku individu dengan pola pendistribusian melalui mekanisme non-ekonomis yaitu pola pendistribusian yang terjadi karena dorongan pahala seperti zakat, infaq, dan shadaqah. Inilah salah satu pola distribusi yang tidak dimiliki di sistem ekonomi manapun.

Pada pendistribusian kekayaan yang dilakukan negara, ternyata juga dibagi dalam dua mekanisme. Mekanisme pasar syariah dan baitul mal. Pada mekanisme pasar syariah semua diserahkan kepada pelaku ekonomi. Negara menjadi pengawas agar pengembangan kepemilikan bisa dilakukan dengan prinsip syariah. Namun jika pendistribusian dilakukan secara non-ekonomis, maka ada beberapa kaidah dalam pembelanjaan atau pendistribusian dari baitul mal sebagai lembaga penyimpan harta kekayaan negara.

Kaidah yang dipakai dalam pembelanjaan kas baitul mal adalah dengan pos-pos yang sudah dipisahkan. Negara membagi pos-pos tersebut sesuai dengan pemasukannya seperti pemasukan dari sektor kepemilikan individu yaitu berupa zakat, infaq dan shadaqah. Khusus untuk zakat maka diperuntukkan untuk delapan golongan sesuai dengan surat at-Taubah ayat 60. Sementara infaq dan shadaqah diperuntukkan untuk ummat pada umumnya sesuai dengan ijtihad khalifah. Pemasukan dari sektor kepemilikan masyarakat yang berasal dari sumber daya alam, hanya diperuntukkan untuk masyarakat umum tidak untuk individu maupun negara. Dan untuk pemasukan dari sektor kepemilikan negara seperti kharaj, jizyah, dll. diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur negara dan kemashlahatan masyarakat sesuai ijtihad khalifah.

Inilah perbedaan mendasar dari bangunan sistem ekonomi yang ada di dunia ini. Mulai dari dorongan kemunculan hingga bangunan semuanya adalah berbeda.

Marketplace