Masuki Dunia Fintech, PayTren Tengah Bersiap Menjadi Layanan Penyedia Pinjaman Berbasis Syariah

PayTren yang dipimpin oleh Ustad Yusuf Mansyur telah cukup lama dikenal sebagai layanan pembayaran berbagai jenis tagihan. Yusuf Mansyur seperti dikutip dari Salaam Gateway mengungkapkan kalau terdapat sebanyak 1,4 juta pengguna yang berasal dari 17 negara di dunia.

Dengan tingkat penggunaan yang tinggi tersebut, PayTren pun kini mencoba untuk memperluas segmen bisnisnya. Dalam waktu dekat, PayTren siap menjadi layanan penyedia pinjaman mobile yang memenuhi unsur-unsur syariah dalam Agama Islam. Proses administrasi terkait hal ini sudah dilakukan bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional (DSN).

Yusuf Mansyur mengatakan kalau potensi bisnis ini sangat tinggi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbanyak dunia. Untuk pengoperasiannya, PayTren bakal menjadi jembatan yang menghubungkan antara pihak peminjam serta orang yang tengah mencari pinjaman. Namun, layanan ini akan dioperasikan dibawah payung perusahan baru, Danakoo Mitra Abadi dan dibuat terpisah dari platform pembayaran tagihan yang telah ada.

Lalu, dari mana uang untuk pinjaman ini akan didapatkan? Yusuf Mansyur mengungkapkan kalau sudah ada dua pihak yang berkenan menjadi penyedia pinjaman. Dua pihak tersebut adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dan Bank Muamalat. Keduanya sudah siap untuk menyediakan pinjaman tanpa riba, melainkan menggunakan sistem murabahah atau berdasarkan sistem pembagian keuntungan.

Baca Juga:   Tahun 2017, DagangHalal Targetkan Tarik Perusahaan-Perusahaan Di Indonesia

Pada segmen bisnis terbarunya ini, pihak PayTren bakal memberlakukan biaya administrasi yang dibayarkan kepada mereka. Jumlah pinjaman yang bisa diperoleh pun beragam. Untuk personal, bisa mencapai angka Rp50 juta. Sementara untuk usaha kecil menengah, PayTren mematok angka pinjaman maksimal pada Rp200 juta rupiah.

Untuk memberikan jaminan keamanan, PayTren tengah menyiapkan sistem yang aman, baik bagi pemilik dana atau peminjam. Spesifikasi yang tengah mereka buat juga bakal disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh OJK, terutama aturan berkaitan dengan layanan peminjaman uang berbasis IT.

Menurut data dari OJK, perkembangan startup fintech di Indonesia saat ini memang sangat pesat. Pada kuartal keempat tahun 2016, jumlahnya mencapai 135, meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan tingginya potensi yang dimiliki oleh para startup fintech di tanah air. Kita tunggu saja, apakah PayTren mampu bersaing di bisnis barunya ini…

Marketplace