Konsep Madaniyah dan Kemajuan Teknologi dalam Islam

Abad ke-21 atau yang biasa disebut abad milenium adalah abad dimana sebuah teknologi berkembang dengan begitu pesatnya. Banyak yang menilai, majunya sebuah peradaban berbasis teknologi ini dimulai dari pecahnya sebuah revolusi di Britania Raya pada tahun 1750-1850. Kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia. Revolusi yang dimaksud adalah revolusi industri.

Revolusi industri menjadi titik balik bagi peradaban umat manusia. Dengan peralihan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga mesin, corak kehidupan manusia berubah. Hampir setiap aktivitas manusia menggunakan mesin.

Kemajuan dunia barat dalam perkembangan teknologi mesin, bersamaan dengan  masa kemunduran Islam. Di saat belahan eropa dan amerika bangkit dengan kekuatan teknologi mesinnya, Islam justru terpuruk di berbagai bidang. Salah satunya adalah teknologi. Banyak yang menilai Islam sangat anti dengan teknologi, dan tidak bisa berjalan sejajar bersama dengan kemajuan sains dan teknologi saat ini. Benarkah demikian?

Jika kita membuka lembaran sejarah masa kejayaan Islam, maka kita akan menemukan sebuah kepastian. Kepastian tersebut adalah Islam maju bersama dengan berbagai penemuan teknologinya. Sebagai contoh adalah Al-Biruni merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan. Selain Al-Biruni, sosok yang paling berpengaruh pada peradaban teknologi adalah Ibnu Ismail Al Jazari
merupakan ilmuwan muslim penemu konsep robotika modern.

Atas dasar itu, bisa dikatakan bahwa Islam maju dengan berbagai penemuan teknologinya. Dan Islam lah sebagai peletak dasar bagi bangunan teknologi yang dikembangkan oleh barat.

Baca Juga:   Bagaimana Dulu Negara Islam Mengatur Arus Mudik?¬†Adakah Teknologi Mudik Saat itu?

Namun bagaimana sebenarnya penjelasan Islam tentang teknologi? Dalam kitabnya syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang berjudul an-Nidzom al-Islam menjelaskan bahwa dalam menilai sebuah sains dan teknologi, harus dipisahkan antara madaniyah khusus dan madaniyah umum. Madaniyah sendiri bermakna kebendaan. Namun dalam hal ini tidak bisa dipandang secara general semua macam benda. Madaniyah khusus adalah setiap kebendaan yang masih memiliki unsur akidah (akidah dari setiap agama maupun ideologi). Dalam hal ini Islam menilai bahwa setiap benda yang masih mengakar pada akidah selain Islam, maka tidak boleh digunakan. Karena itu bertentangan dengan akidah Islam itu sendiri. Contoh dari madaniyah khusus itu sendiri adalah patung, salip, candi peninggalan kerajaan selain Islam, dlll.

Namun berbeda halnya dengan madaniyah umum yakni setiap kebendaan yang tidak terpengaruh dengan akidah. Maka dalam hal ini Islam sangat membolehkan serta menganjurkan bagi pemeluknya untuk menciptakan, mengkreasikan, dan merekayasa hasil-hasil teknologi temuannya. Tidak ada larangan sedikitpun untuk mengambilnya. Sebagai contoh adalah benda dari hasil rekayasa sains dan teknologi seperti kendaraan, alat komunikasi baik visual maupun non-visual, dll. Selama suatu benda tersebut tidak terpengaruh oleh akidah manapun, maka benda tersebut boleh untuk dimiliki oleh siapapun.

Dengan ini maka menjadi suatu kewajaran jika Islam sangat menaruh perhatiaannya pada dunia teknologi. Dan ini bisa dibuktikan dari hasil karya ilmuwan pada masa keemasan Islam.

Marketplace