Bisnis Startup, Soal Manfaat atau Halal Haram?

Ada yang menarik dalam seminar Ignition Gerakan Nasional 1.000 Startup, di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (13/8/2016). Dalam seminar yang dikutip dari surat kabar harian Kompas Senin, 15 Agustus 2016, Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa dalam membuat inovasi, startup boleh saja melanggar aturan-aturan tertentu, dengan syarat hasilnya memang bermanfaat untuk orang banyak dan memberi nilai tambah bagi kehidupan. Satu hal saja yang pantang dilanggar, yaitu Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Ayo kita pikirkan sesuatu, kalau ada yang mesti diubah ya ayo kita ubah. Satu hal yang tidak boleh dilanggar adalah UUD 1945. Kalau yang dilanggar itu peraturan di bawah menteri, ya mari diskusi saja, tegasnya di hadapan peserta seminar Ignition Gerakan Nasional 1.000 Startup, di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (13/8/2016).

Sekilas memang tidak ada yang salah dalam pernyataan menkominfo tersebut. Namun jika kita melihat dari kaca mata kaum muslim, mestinya ada yang salah dalam kalimat tersebut. Menkominfo menjelaskan bahwa setiap aturan boleh diubah atas dasar manfaat selama tidak melanggar UUD 1945.

Tentunya dalam menentukan hukum seorang muslim harus terikat dengan kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan (Syariah), diantaranya adalah soal halal dan haram. Jika kita kaitkan dengan pernyataan tersebut kaidah yang dipakai oleh menkominfo adalah kaidah manfaat. Tentunya ini jelas berbeda dengan prinsip yang dipegang seorang muslim. Karena jika asas manfaat yang dipakai tentunya bisnis startup yang melanggar norma dan aturan agama tentu diperbolehkan.

Kaidah Membuat Startup Bagi Seorang Muslim

Jika kita seorang pebisnis startup, tentunya bisnis yang kita kembangkan ini ingin menuai keberhasilan dan keberkahan. Mungkin sebuah keberhasilan bisa didapat dengan tidak memperhatikan kaidah halal dan haram, namun untuk sebuah keberkahan tentunya kaidah ini jelas harus diperhatikan. Inilah yang membedakan pebisnis startup muslim dan non-muslim. Karena bisnis startup bukan hanya soal harta namun juga pahala, bukan pula soal dunia namun juga akhirat.

Baca Juga:   Teknologi untuk Menutup Aurat

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 8 yang artinya:

Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah SWT menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah karena adil lebih dekat dengan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Imam Ali r.a. pernah berkata, Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan pada tempatnya.”

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ketika kita ingin membuat dan menjalankan bisnis startup maka kita harus berlaku adil yaitu dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya kita harus tempatkan bisnis ini dengan hukum yang tepat yakni sesuai dengan kaidah dasar yaitu halal dan haram. Bukan hanya sebatas adanya manfat atau tidak.

Itulah kaidah dasar bagi siapapun yang ingin menjalankan sebuah bisnis. Termasuk dalam hal ini adalah bisnis startup. Dan insya Allah keberhasilan dan keberkahan bisa kita raih.

Wallahu’alam

Marketplace