Bisnis Online MLM (Multilevel Marketing) Dan Makelar, Bolehkah..?

Dalam era industrialisasi, perbisnisan berjalan begitu pesatnya. Hampir tidak ada ruang yang kosong kecuali terisi dengan bisnis. Ya bisnis sudah menjalar pada setiap sendi kehidupan manusia. Tidak hanya pada orang dewasa saja, remaja pun kini mulai bergelut pada aktivitas bisnis baik di dunia nyata maupun di didunia maya (online).

Salah satu bentuk bisnis dan pemasaran yang populer adalah MLM atau Multilevel Marketing. MLM digunakan tatkala perusahaan ingin menjual produk secara maksimal. Dengan penjualan yang berbasis jaringan diharapkan banyak dari sales bisa menjual barang kepada konsumen atau  mencari konsumen dan menjadikan konsumen tersebut sebagai anggota dibawah naungan levelnya.

Banyak yang menanyakan dari status bisnis MLM ini. Namun sayang tak banyak yang berani mengupasnya. Dalam buku Bisnis dan Muamalah Kontemporer yang ditulis oleh KH. Hafidz Abdurahman dan Ust. Yahya Abdurahman ditegaskan bahwa praktik dari MLM tersebut haram. Namun dari sisi mana keharamannya bisa datang? Dalam hal ini akan dipaparkan fakta keharaman MLM.

Pengertian MLM

Multilevel Marketing secara harfiah adalah pemasaran yang dilakukan melalui banyak level atau tingkatan, yang biasanya dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat bawah). Up line dan down line umumnya mencerminkan hubungan pada dua level yang berbeda, atas dan bawah, maka seseorang disebut up line jika mempunyai down line baik satu maupun lebih.

Bisnis ini memang digerakkan dengan sistem jaringan. Tidak ada MLM bergerak tanpa menggunakan sistem jaringan. Walaupun secara teknis terdapat perbedaan jaringan. Ada yang secara horizontal (ke bawah) atau vertikal (ke samping). Namun tentunya secara prinsip ini jelas sama. Apalagi bisa kita lihat bahwa dalam teknis diagram horizontal si member harus memiliki anggota yang anggota tersebut harus mencari anggota yang lain. Cara yang sama pun dilakukan oleh MLM teknis diagram vertikal yaitu member mencari anggota yang dan ditempatkan pada sisi kirinya dan pada sisi kanannya. Kemudian anggota tersebut mencari yang lain dan seterusnya. Dari sini kemudian perusahaan bisa memberikan sebuah bonus kepada member dan angota yang berhasil menjalankan bisnis jaringannya.

Syarat Menjadi Member

Untuk masuk dalam jaringan bisnis pemasaran seperti ini, biasanya setiap orang harus menjadi member (anggota jaringan). Kadangkala membership tersebut dilakukan dengan mengisi formulir membership dengan membayar sejumlah uang pendaftaran, disertai dengan pembelian produk tertentu agar member tersebut mempunyai point, dan kadang tanpa membeli produk. Dalam hal ini, point menjadi penting. Sebab terkadang perusahaan menjadikan nilai dari point tersebut sebagai perolehan bonus bagi setiap member. Point tersebut bisa dihitung berdasarkan pembelian langsung, atau tidak langsung. Pembelian langsung biasanya dilakukan oleh masing-masing member, sedangkan pembelian tidak langsung biasanya dilakukan oleh jaringan member tersebut.  Dari sini, kemudian ada istilah bonus pembelian barang dan bonus jaringan. Karena dua kelebihan inilah, biasanya bisnis MLM ini dinikmati banyak kalangan. Ditambah dengan adanya potongan harga yang tidak diberikan kecuali kepada member.

Fakta umum Multilevel Marketing

Dari paparan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa MLM tidak akan bisa berkembang tanpa ada pelebaran bisnis jaringan yang digerakan oleh member pada setiap levelnya.  Baik pelebaran bisnis jaringan dengan menggunakan diagram ke bawah atau ke samping (kanan dan kiri). Namun bisnis jaringan ini tidak akan bisa berjalan tanpa adanya keuntungan (benefit) yang berupa bonus. Bentuknya bisa berupa potongan harga, bonus pembelian langsung, dan bonus jaringan. Dari ketiga bonus tersebut, bonus yang ketigalah yang paling banyak diterapkan oleh perusahaan berbasis MLM. Baik yang menamakannya langsung sebagai perusahaan yang berbasis MLM ataupun tidak. Dengan kata lain bonus jaringan -yaitu bonus yang diberikan karena faktor jasa masing-masing member dalam membangun bisnis formasi jaringan- ini diberikan kepada member yang bersangkutan, karena telah berjasa menjualkan produk perusahaan secara tidak langsung yaitu melalui peran anggota yang melebarkan bisnis jaringannya. Begitu seterusnya.

Karena itu posisi member dalam jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi: (1) pembeli langsung, (2) makelar. Disebut pembeli langsung manakala sebagai member, dia melakukan transaksi pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui distributor atau pusat stock. Disebut makelar, karena dia telah menjadi perantara –melalui perekrutan yang telah dia lakukan- bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk perusahan tersebut. Inilah praktik yang terjadi dalam bisnis MLM.

Baca Juga:   Startup Dan Perseroan Terbatas (PT) Dalam Pandangan Islam

Dari sini, kasus tersebut bisa dikaji berdasarkan kedua fakta di atas yaitu fakta pembelian langsung dan fakta makelar. Dalam praktiknya, pembelian langsung yang dilakukan disamping mendapatkan bonus langsung, berupa potongan, juga mendapatkan point yang secara akumulatif akan dinominalkan dengan sejumlah uang tertentu. Pada saat yang sama, melalui formasi jaringan yang dibentuknya orang tersebut mendapatkan bonus tidak langsung.

Hukum Seputar MLM

Dari fakta-fakta umum yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa praktik multilevel tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua hukum, bisa salah satunya atau kedua-duanya sekaligus:

  1. Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah bay’atan fi bay’ah. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua adalah akad makelar (samsarah).
  2. Hukum makelar atas makelar. Up line adalah makelar, baik bagi pemilik langsung atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.

Mengenai kasus dua akad dalam satu transaksi telah banyak dinyatakan dalam hadist Rasulullah Saw antara lain sebagai berikut:

Hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’I dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra. yang menyatakan:

Nabi saw telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian

Dari hadist ini bisa kita ambil suatu hukum yaitu dilarangnya dalam satu transaksi terdapat dua akad. Artinya ketika kita hendak melakukan transaksi, maka lakukanlah transaksi dengan satu akad. Sebagai contoh adalah ketika kita ingin membeli motor atau mobil, dengan menggunakan akad leasing maka akan terjadi dua akad sekaligus yaitu akad jual beli dan sewa. Dan antara keduanya tidak bisa dipisahkan karena secara arti leasing memang sewa beli.

Disamping itu Islam menetapkan bahwa akad harus dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara yaitu zat (barang atau benda) atau jasa (manfaat). Misalnya, akad jual beli adalah akad yang dilakukan terhadap barang. Sedangkan akad ijarah adalah akad yang dilakukan terhadap jasa (manfaat). Selain kepada kedua hal ini, maka akad tersebut statusnya batil. Dan jika batil maka akad tersebut tidak sah.

Adapun praktik makelar secara umum hukumnya boleh. Berdasarkan hadist dari Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:

“Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural simsar, makelar) kemudian Rasulullah Saw keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: Wahai para tujjar (plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah, maka bersikanlah dengan sedekah.”

Hanya perlu dipahami adalah fakta pemakelaran yang dinyatakan dalam hadist Rasulullah saw sebagaimana yang dijelaskan oleh as-Sarakhsi ketika mengemukakan hadist ini adalah

“Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi (upah atau bonus), baik untuk menjual maupun membeli.”

Dari batasan-batasan tentang makelar di atas, bisa kita simpulkan bahwa makelar itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik. Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan.

Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah, atau orang yang mempertemukan dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah, maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelarnya.

Marketplace