4 Hal yang Bisa Dipelajari oleh Pendiri Startup dari Keruntuhan Raksasa Yahoo

Yahoo dulu dikenal sebagai sebuah perusahaan besar. Hampir semua sempat menjadikan Yahoo seperti halnya Google saat ini. Yahoo Messenger pernah menjadi sebuah trend untuk menghabiskan waktu dengan sekadar mengobrol dan memperbarui status Anda dengan smiley ketika memakai aplikasi. Begitu pun juga dengan mesin pencari Yahoo.

Mengenai alamat email pun sama, kebanyakan alamat email pertama user adalah milik platform Yahoo. Anda tak bisa memungkiri juga bahwa platform Yahoo yang sekarang tak se-booming dahulu. Verizon telah membeli Yahoo sebesar $4,83 Miliar yang pada tahun 2017 ini mengalami perubahan.

Tentunya, seorang pemilik perusahaan tidak ingin nasib mereka berakhir seperti Yahoo. Harapannya, perusahaan bisa bertahan langgeng dalam jangka yang lama. Untuk itu, setidaknya terdapat empat pelajaran yang bisa Anda ambil dari keruntuhan Yahoo, yakni:

1. Sesuaikan dengan waktu

Menurut Bim Santos dari Bloomberg TV Philipines, menyatakan bahwa Yahoo adalah platform yang gagal menemukan relevansi dalam ekosistem teknologi informasi berbasis inovasi kuantum. Sebagai mesin pencari yang sudah ada dari sejak internet mewabah dunia, Yahoo cepat kehilangan pendekatan dengan user. Berbanding terbalik dengan Google yang lebih baik dan bersih. Ibarat seperti brand Nokia yang gagal mengikuti arus perkembangan teknologi, yang semakin mundur dengan adanya Apple dan Android.

Baca Juga:   TrueMoney, Layanan Uang Elektronik Berbasis Syariah Pertama di Indonesia

2. Membangun produk yang solid mampu membedakan produk Anda dengan produk rival

Menurut Santos, Yahoo telah gagal membangun identitas diri yang membedakan dengan produk mesin pencari yang lain. Dari awal identitas diri Yahoo tidak terlalu padat dan tak membuat tanda di antara millennium yang berubah-ubah yang merupakan demografi inti internet.

3. Pertahankan fokus

Yahoo tidak benar-benar focus, itu menurut Principal di Golden Gate Ventures yang berbasis di Singapura yakni Justin Hall. Menurutnya, mereka tidak benar mengetahui arah fokusnya, fokus dalam memperluas penawaran, fokus pada pencarian atau fokus yang lain. Dan ketidak fokusan ini membuat Yahoo makin lesu.

4. Membangun budaya kepercayaan

Setiap Mayer bergerak selalu menjadi perhatian publik. Dan di dalam perusahaan Yahoo kurang memiliki budaya saling percaya. Banyak kritik yang ditujukan kepada Mayer sebagai CEO Yahoo yakni adanya PHK secara rahasia untuk mendongkrak popularitasnya saja. Kabar buruk lainnya, Mayer melakukan pemecatan klandestin untuk menghindari publisitas buruk di mata dunia. Yang paling disayangkan, Mayer mengingkari kata-katanya bahwa PHK telah berakhir padahal PHK masih bergulir.

Marketplace